Rabu, 15 Desember 2010

Andrian, Tiga Kali Haji Berkat Jadi Pelayan Masjid Rasul


Penjaga air zam-zam di Masjid Nabawi - Madinah
JEDDAH–Di tengah keheningan orang beribadah di Masjid Nabawi Madinah pagi itu, tampak beberapa orang berpakaian serba hijau sibuk merapikan tempat air zam-zam. Satu per satu mereka menata gelas dan sebagian lagi mengecek isi gentong.
Meski pekerjaan mereka terganggu dengan jamaah yang tak sabar meminum zam-zam, namun tak sedikitpun tampak gurat kemarahan. Mereka malah tersenyum dan begitu ikhlas dengan pekerjaannya. Lelaki-lelaki berpakaian serba hijau itu adalah penata air zam-zam. Jumlahnya mencapai puluhan orang dalam satu kali shift.
Yang mengejutkan dari ratusan petugas itu, satu di antaranya terdapat Muhammad Andrian Ibrahim, pemuda asal Purwakarta, Jawa Barat. Andri, demikian dia biasa disapa, sudah lebih dari tiga tahun menjadi petugas di Nabawi.
Pagi itu, Andri dan beberapa rekannya dari Pakistan tengah mengganti gentong-gentong zam-zam. Tiap pergantian shift, gentong dicek dan kemudian diisi ulang. Gentong-gentong ini jumlahnya mencapai ribuan. Satu gentong bisa memuat 65 liter air. Tiap hari rata-rata kebutuhan zam-zam di Nabawi mencapai 25 tangki berisi 10.000 liter. Pada Ramadan, kebutuhan zam-zam mencapai puncaknya, yakni bisa 23.000 gentong. “Tugas utama saya ya memeriksa, membersihkan dan sekaligus mengisi penuh lagi,” ujarnya. Selain menata gentong, Andri juga membersihkan gelas-gelas yang bekas sekaligus mengganti yang baru.
Meski hanya penjaga air zam-zam, pemuda kelahiran Purwakarta, 14 Juni 1985 mengaku sangat menikmati dan mensyukuri pekerjaan ini. Bagi dia, menjadi pelayanan di Masjid Nabawi adalah sebuah kehormatan. Apalagi, sejak menempuh di Pesantren Alhikmatussalafiah, Cibulus, Wanayasa, dia sudah berangan-angan bisa bekerja dan menuntut ilmu di Tanah Suci.
Maka ketika tawaran itu datang, dia pun tak mau melewatkannya. Dia mendapat tawaran ini dari salah satu kerabatnya yang juga lebih dulu bekerja di Masjid Nabawi. Karena sudah bertekad kuat itulah, dengan cepat dia melengkapi syarat-syarat agar bisa segera pergi ke Arab Saudi. Tepat pada Agustus 2008, dia mulai bekerja sebagai penjaga air zam-zam di bawah naungan Saudi Bin Ladin Group. Perusahaan ini adalah penguasa di Arab Saudi, termasuk terkenal dalam jasa kontruksi. Tak hanya di Nabawi, petugas-petugas di Masjidiljharam dan Bandara King Abdul Azis Jeddah juga di bawah kendali Bin Laden Group. “Saya memilih di Madinah karena berharap bisa sekolah di sini,” ungkap dia.
Di Masjid Nabawi, petugas masjid dibagi jadi empat kelompok. Selain penjaga air zam-zam, petugas pelayan jamaah adalah penata Alquran, tukang kebersihan dan pembersih halaman masjid. Untuk petugas kebersihan berwarna biru, penata Alquran merah muda, sedang penjaga halaman berwarna cokelat. Mereka bekerja secara bergantian tiap delapan jam sekali.
Karena masih banyak waktu luang itu pulalah, Andri juga bertekad bisa memperdalam ilmu agama di Madinah. Namun sayang, keinginannya belum bisa terkabul. “Ya waktunya saja yang belum pas. Saya sudah mengincar sekolah jurusan bahasa di sini misalnya, tapi waktu belajarnya mengganggu kerja saya di masjid.”
Pendapatan dari profesinya sebagai penjaga air zam-zam, menurut Andri, sebenarnya tidaklah besar. Dalam satu bulan, dia hanya dibayar 529 riyal atau setara dengan Rp1.300 ribu. Dia pun tak berupaya mencari tambahan pendapatan seperti dengan bekerja paruh waktu berdagang atau yang lain. Tambahan uang paling-paling dari kedermawanan para jamaah. Saat Ramadan, jumlah orang yang berderma sangat banyak. “Mereka biasanya memberi usai salat, ada yang 10 riyal, 20 riyal bahkan ada yang lebih besar,” ceritanya.
Sebab bukanlah materi semata yang membuat Andri begitu kerasan menjalankan pekerjaan ini. Sebagai pelayan jamaah di Masjid Nabawi, dia banyak merasakan keberkahan yang didapat selama ini. Kesehatan dan keselamatan, demikianlah dia menceritakan soal keberkahan itu.
Karena bekerja sebagai pelayanan masjid yang dibangun Nabi Muhammad ini pulalah, dia sudah bisa menunaikan ibadah haji tiga kali. Musim haji tahun ini, dia pun bersyukur bisa kembali berhaji sebelum pulang ke Tanah Air empat bulan lagi. Untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini, Andri mengaku tak susah. Sebab saat musim haji atau wukuf, dia meminta izin atau berganti libur dengan sesama rekan pekerja. “Alhamdulillah saya di sini ini meski dapat uang sedikit tapi bisa jadi akar untuk modal masa depan,” katanya. 

mch /Riyanto

http://www.jurnalhaji.com/2010/12/15/andrian-tiga-kali-haji-berkat-jadi-pelayan-masjid-rasul/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar