Rabu, 09 Juni 2010

Haruskah Berakhir Dengan Cara Seperti Ini?



Sejak pagi Mansur telah mempersiapkan materi khutbah karena dirinya dijadwalkan mengisi khutbah jum’at di salah satu kantor BUMN di bilangan Kebun Sirih. Hari itu ia ingin berangkat lebih awal karena ingin mampir silaturrahim ke bekas rumah kosnya di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan.

Sebelum pukul sepuluh pagi, Mansur telah tiba di rumah bekas kosnya, di mana ia pernah tinggal tidak kurang dari dua tahun, antara tahun 2005 hingga tahun 2007.
Bagi Mansur rumah kos tersebut memiliki keistimewaan tersendiri. Rumah itulah yang mengajarinya banyak hal tentang kehidupan. Namun, yang paling mengesankan baginya adalah keakrabannya dengan para tukang ojek yang mangkal di depan rumah kos tersebut. Keakraban dengan mereka mengajarinya betapa sulitnya mencari uang di ibu kota seperti Jakarta. Namun, dengan berangkat dari niat yang baik, ibadah yang terjaga, kerja dengan sungguh-sungguh, dan syukur kepada Allah SWT disertai dengan tawakkal kepada-Nya, insya Allah hidup ini akan terasa indah, kendati hasil yang diterima tak selalu sesuai dengan harapan.
Setiba di bekas rumah kosnya, Mansur disambut hangat oleh para tukang ojek yang sedang bernaung di halaman depan, di bawah pohon rambutan yang rindang, sambil menunggu penumpang. Para tukang ojek itu menyalaminya satu persatu dengan penuh hangat, layaknya sahabat yang lama nggak bertemu. Mereka menyebut pangkalannya dengan Pangkalan Ojek Masjid, karena dekatnya dengan Masjid, tak lebih dari 10 meter.
Setelah ”diabsen” satu persatu, diantara 11 orang tukang ojek yang aktif mangkal di pangkalan masjid tersebut, hanya tiga orang yang tidak hadir ketika itu. “Odeng di mana?” Tanya Mansur. “Lagi pulang ke rumah istrinya,” jawab Opik sembari menambahkan bahwa Odeng telah beberapa hari pulang ke rumah istrinya di Bogor
“Cimet?” Tanya Mansur lagi?” “Dia sudah pindah ke Pondok Gede,” jawab Lani, seorang penjaga masjid yang juga sering nongkrong bersama para tukang ojek itu.
Seorang lainnya yang tak hadir saat itu adalah Pak Dudung. Namun, Mansur tak menanyakannya, karena tukang ojek yang satu ini tergolong “tidak gaul”, jarang nongkrong dengan para tukang ojek lainnya. Dia suka menyendiri. Kalau antrian motor tukang ojek sedang panjang dia biasanya main ke rumah saudaranya yang terletak tak jauh dari pangkalan ojek. ”Ah, paling lagi narik atau lagi di rumah saudaranya,” pikir Mansur, alasan yang membuatnya tak menanyakannya.
Namun, pikirannya itu meleset. Pak Dudung tak sedang narik dan tidak pula sedang main ke rumah saudaranya. Dia telah dipanggil oleh Allah SWT. Ya, Pak Dudung telah meninggalkan istri, anak-anak, dan teman-temannya, untuk selama-lamanya. ”Dia sudang meninggal sekitar tiga bulan lalu Mas,” ucap Opik saat mengantar Mansur dari rumah bekas kosnya menuju Kebun Sirih dengan ojeknya.
”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucap Mansur seketika. ”Lalu...?” imbuhnya.
”Lalu bagaimana?!” tanya Opik seolah meminta penjelasan.
”Maksud saya, apa dia udah tobat atau belum?”
”Maksudnya?” opik terlihat kebingungan saat ditanya perihal pertobatan Pak Dudung.
”Sepertinya belum Mas. Dia masih kayak dulu-dulu sampai ia meninggal,” jawab Opik.
”Astagfirullah....!” ucap Mansur memohon ampun sesaat setelah mendengar bahwa Pak Dudung tak sempat shalat sampai ia dipanggil oleh-Nya.
Mansur sengaja menanyakan soal petobatan Pak Dudung mengingat dia adalah satu-satunya tukang ojek yang tak pernah terlihat melakukan shalat, sekalipun jarak antara masjid dengan pangkalan tukang ojek tak lebih dari 10 meter. Bahkan menurut teman-temannya sesama tukang ojek, orang satu ini tak pernah terlihat shalat (entah di masa anak-anak atau mudanya?), di rumahnya sekalipun. Bahkan, seperti yang biasa disaksikan sendiri oleh Mansur, jika adzan dikumandangkan, Pak Dudung tetap saja dengan asyiknya duduk di bangku panjang pangkalan tukang ojek. Ketika diajak, dia hanya mengangguk diam. Dan, ketika orang-orang sedang shalat di Masjid, ia malah masuk halaman rumah kos itu lalu duduk di lantai depan sembari menikmati isapan rokoknya dalam-dalam.
Opik menambahkan, ”Dia meninggal tak lama setelah dia tiba di rumahnya setelah narik ojek.”
”Secepat itu ya!” ujar Mansur.
“Ceritanya, setelah tiba di rumahnya, ia ambil air minum. Namun, sesaat setelah minum, ia terjatuh tak sadarkan diri. Sepertinya ia terkena serangan jantung. Ketika keluarganya sibuk akan membawanya ke rumah sakit, ia telah tiada. Hanya berselang beberapa menit setelah jatuh, ia langsung meninggal Mas,” jelas Opik.
”Secepat itu ya Bang!” ucap Mansur.
Itulah ajal, ia datang tiba-tiba. Demikianlah kematian, ia datang kapan saja, tanpa seorang pun mengetahui kedatangannya, termasuk oleh Pak Dudung. Hidupnya berakhir ketika hari-harinya terlewatkan tanpa shalat, ibadah yang menjadi penentu selamat atau tidaknya seseorang. “Haruskah berakhir dengan cara seperti ini?!”

@ @ @

Lain halnya dengan Dodi (bukan nama aslinya), seorang ayah muda yang sehari-hari bekerja sebagai ”pengayom masyarakat”, hidupnya berakhir setelah mengunsumi obat-obatan terlarang dalam jumlah banyak alias over dosis atau OD, akhir 2008 lalu.
Di malam hari, ketika kebanyakan orangtua sedang berkumpul dengan istri dan anak-anaknya, ia lebih memilih berkumpul dengan teman-temannya sembari melewatkan malamnya dengan canda dan tawa disertai dengan obat-obatan terlarang.
Setelah merasa puas menenggak barang haram tersebut, di tengah malam, barulah Dodi kembali ke rumahnya, saat istri dan kedua orang anaknya yang cantik-cantik telah tidur lelap.
Karena kelelahan dan merasa kantuk luar biasa, Dodi memutuskan untuk langsung tidur, di tempat yang terpisah dari anak-anak dan istrinya. Menit demi menit berlalu. Jam demi jam dilewatinya dengan tidur lelap.
Suara adzan subuh yang bersumber dari masjid dan mushalla-mushalla begitu nyaring terdengar di berbagai penjuru desa. Namun, suara itu tak membuat Dodi bangun dari tempat tidurrnya. Bahkan ketika istrinya membangunkannya dengan memanggilnya dari arah pintu, ia tak bergerak sedikit pun.
Sang istri terus berusaha membangunkannya. Jika kali pertama tadi sang istri memanggilnya dari arah pintu saja, kini, kali yang kedua, ia mendekatinya lalu memanggilnya, “Pah, bangun Pah, udah siang!” lalu pergi meninggalkannya. Namun hasilnya nihil.
Beberapa saat kemudian, dengan maksud yang sama: membangun sang suami. Ini kali ketiga ia berusaha membangunkannya. Sang istri sedikit heran, karena tak biasanya ia membangunkan suaminya lebih dari tiga kali.
Sudah tiga kali ia berusaha membangunkan suaminya, tetapi hasilnya tetap sama: suami tak memberikan isyarat apa-apa. Pensaran dengan kondisi suaminya yang tak lazim itu, ia kemudian mendekati suaminya sembari meneriakinya agar bangun, ini yang keempat kalinya. ”Pah, bangun Pah, udah siang!” ujar sang istri sembari menggoyang kakinya. Namun, ia tak mendapatkan jawaban apa-apa. Sang istri kemudian memindahkan tangannya ke lengan tangan kanannya lalu menggerakkannya, tetapi suaminya tetap saja diam dan kaku.
Setelah menggoyang seluruh badan suaminya barulah ia sadar, ternyata lelaki yang telah menjadi suaminya selama tidak kurang dari 5 tahun itu telah tiada. Suami yang menjadi tulang punggungnya telah meninggalkan dirinya, anak-anaknya dan keluarga besarnya, untuk selama-lamanya.
Selidik punya selidik, ternyata suaminya meninggal setelah mengonsumsi obat-obatan terlarang dalam jumlah yang sangat banyak. Lalu, ”Haruskan berakhir dengan cara seperti ini?”

Ya Allah, Engkaulah Maha Pengampun, Maha Penerima taubat, dan Maha Pemberi rahmat, ampunilah dosa-dosa dan rahmatilah kami...berilah kami husnul khatimah. Allahumma Amin.... (by: M.Yusuf Shandy)




http://kaunee.com/index.php?option=com_content&view=article&id=770:haruskah-berakhir-dengan-cara-seperti-ini&catid=40:nuansa-hati&Itemid=119

Tambah Gambar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar