Rabu, 12 Agustus 2009

FAIRUS AD-DAILAMY dan TERBUNUHNYA NABI PALSU

Nabi Palsu tidak hanya ada pada zaman modern ini saja, saat Rasulullah sakit pun ada coba-coba mengambil kesempatan untuk menyebarkan ajaran sesat, bahkan tidak hanya satu Nabi Palsu……. Melainkan Tiga Nabi Palsu. Beliau me­merintahkan mereka supaya segera bertindak menumpas bencana yang membahayakan iman dan Islam. Beliau memerintahkan su­paya menyingkirkan Aswad Al-Ansy dengan cara yang sebaik-baiknya. Kisah ini aku dapatkan pada Majalah HIDAYAH yang terbit pada JULI 2009, mari kita beli majalah tersebut dan dibaca biar dapat pahala. Semoga kisah ini bermanfaat bagi kita semua……. Dan semoga Para Nabi Palsu pun segera bertobat………AMIEN YAAA ROBB




FAIRUS AD-DAILAMY dan TERBUNUHNYA NABI PALSU

Sekembalinya dari Haji Wada', Rasulullah saw sakit. Berita tersebut pun kontan tersiar ke seluruh Jazirah Arab. Ironisnya, tiga tokoh berpen­garuh yang murtad memanfaatkan situasi genting tersebut. Mereka adalah Aswad Al Ansy di Yaman, Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah, dan Thulaihah AI-Asady di perkampungan Bani Asad. Mereka mendak­wakan diri menjadi nabi bagi kaumnya, seperti halnya Muhammad diutus bagi kaum Quraisy.

Aswad Al-Ansy adalah tukang tenung yang menyebar kejahatan dengan mengelabui mata korbannya, menggunakan musya'widz (semacam alas sulap untuk menyihir mata orang). Dia kuat dan bertubuh kekar. Di samping itu, dia sangat pandai berbicara, memperdayai orang dengan kata-katanya. Karena itu dia bisa mempermainkan penda­pat umum dengan keterangan-keterangannya yang menyesatkan. Keinginannya akan harta, kekuasaan dan pangkat sangat menonjol. Tetapi, secara penampitan kelihatan sangat sederhana, yang tak lain demi menutupi kepribadiannya yang penuh rahasia.

Ketika itu Yaman dipegang golongan "Abna" yang dikepalai Fairus ad-Dailamy, sahabat Rasulullah. Abna adalah nama bagi segolongan masyarakat Yaman. Bapak mereka adalah orang Persia yang merantau jauh dari negeri mereka, sementara ibunya adalah tipikal wanita-wanita Arab. Raja mereka adalah Badzan. Ketika Islam meluaskan dak­wahnya, Badzan telah menjadi Raja di Yaman sebagai Kuasa Kisra, Maharaja Persia.

Setelah syiar Islam, Rasulullah saw menyebar dan diterima Badzan, dia pun melepaskan diri dari kekuasaan Kisra. Ia dan rakyatnya memilih masuk Islam. Rasulullah lantas mengukuhkan Badzan menjadi raja sampai dia mangkat, tidak lama sebelum gerakan Aswad Al-Ansy muncul.

Orang yang mula-mula menjadi pengikut gerakan Aswad Al-Ansy ialah kaumnya send­iri, Banu Madzhij. Dengan pengikut-pengi­kutnya itu, Aswad mula-mula menerkam Shan'a. Kepada daerah Shan'a, Syahar putra Badzan, dibunuhnya. Istri Syahar, putri Adzada, dikawininya dengan paksa.

Dari Shan'a, Aswad Al-Ansy melompat menyerang daerah-daerah lain. Sehingga dalam tempo singkat, daerah yang luas pun bertekuk lutut di bawah kekuasaannya, yaitu hampir mencapai seluruh daerah Hadhramut hingga Thaif, dan antara Bahrain hingga Aden.

Modal utama Aswad menangguk keber­hasilan sebenamya hanyalah semata-mata kelicikan dan kelihaian berbicara dan ber­tindak. Kepada pengikut-pengikutnya, dia mengatakan bahwa dia selalu didampingi malaikat yang menyampaikan wahyu, Berta memberitahukan hal-hal yang ghaib kepa­danya.

Pengakuannya itu diperkuat dengan mengirim mata-mata ke seluruh wilayah sampai ke pelosok-pelosok negeri. Tugas mata-mata itu adalah menyelidiki keadaan masyarakat, sampai kepada yang sekecil­-kecilnya dan sangat rahasia. Mereka berusaha mengetahui kesulitan-kesulitan yang sedang dialami masyarakat setempat, dan keinginan­keinginan yang bergejolak di hati mereka.

Lalu Aswad datang pada mereka mem­bawa oleh-oleh yang menggembirakan. Dia berusaha memenuhi kebutuhan setiap orang yang memerlukan bantuannya, mengatasi setiap orang yang memerlukan bantuannya, dan membantu setiap kesulitan yang mereka hadapi.

Kepada simpatisannya, diperagakannya hal-hal yang ajaib dan aneh hingga mereka terpesona, karena tidak sanggup memahami dan memikirkannya. Dengan begitu, pen­gagum Aswad Al-Ansy bertambah banyak dan menyebabkan dia menjadi kuat. Akh­irnya, dakwahnya pun makin tersebar luas.

Ketika Rasulullah menerima laporan gerakan Aswad Al-Ansy, beliau segera men­gutus sepuluh orang sahabat untuk membawa surat kepada para sahabat yang dianggap berpengaruh di kawasan Yaman. Beliau me­merintahkan mereka supaya segera bertindak menumpas bencana yang membahayakan iman dan Islam. Beliau memerintahkan su­paya menyingkirkan Aswad Al-Ansy dengan cara yang sebaik-baiknya.

Perintah tersebut disambut antusias oleh para sahabat, termasuk Fairus Ad-Dailamy dan anak buahnya dari golongan Abna'. Bahkan dialah orang yang pertamakali mer­espons perintah Rasulullah tersebut untuk memberangus para nabi palsu.

Fairus dan pasukannya segera bersiaga di tempat masing-masing dengan segala kemampuan yang ada. Mereka sendiri sebe­narnya begitu kesal dengan kepongahan Aswad Al-Ansy. Termasuk terhadap pan­glimanya sendiri, Qais bin 'Abd Yaghuts. Bahkan menurut kabar beredar, Aswad tega menamparnya.

Keadaan ini segera dimanfaatkan Fairus untuk mencari simpati Qais. Bersama anak pamannya, Dadzan, mereka menemui Qais. Di luar dugaan Qais senang bukan main atas kunjungan tersebut, hingga ia tergugah dan sepenuh hati menerima tawaran mereka. Tak pelak, mereka bertiga akhirnya segera menyusun siasat untuk menumpas Aswad. Mereka bertiga rencananya akan menumpas dari dalam, sementara kawan-kawan yang lain akan bertindak dari luar.

Dalam hal ini Dadzan, anak paman Fai­rus, yang dikawini Aswad secara paksa setelah ia bunuh suaminya, Syahar bin Badzan, akan memegang peranan penting bagi terlaksan­anya siasat tersebut.

"Wahai anak pamanku! Kami tahu bagaimana perlakuan orang ini (Aswad) ter­hadap dirimu dan terhadap kami. Dia sung­guh jahat dan kejam. Dia telah membunuh suamimu dan menodai wanita-wanita golon­ganmu. Dia telah banyak membunuh, dan selalu bertindak sewenang-wenang. Ini surat Rasulullah tertuju khusus kepada kita dan penduduk Yaman. Beliau memerintahkan kita menghentikan malapetaka ini dengan tuntas. Dapatkah kamu membantu kami?" tanya Fairus saat menemui Dadzan.

"Bantuan apa yang harus aku berikan pada kalian?"

"Mengusirnya..!" tegas Fairus. "Jangankan mengusir, membunuhnya pun aku bersedia!"

"Demi Allah! Memang itulah maksudku. Tetapi aku khawatir kalau-kalau engkau tidak menyetujui maksud kami."

"Demi Allah yang mengutus Muhammad dengan agama yang hak, memberi kabar gem­bira dan kabar takut, aku tidak pernah ragu sedikit pun pada agamaku. Karena itu tidak ada makhluk Allah yang paling saga benci selain setan yang satu ini (Aswad). Demi Allah! Setahuku, sejak aku lihat orang-orang ini, pekerjaannya tidak lain hanya menyebar kejahatan, tidak pernah mengindahkan yang hak, apalagi akan mencegah yang mungkar," kata Dadzan kembali meyakinan.

"Nah! Kalau begitu, bagaimana cara kita membunuhnya?"

"Dia selalu dikawal ketat. Tidak ada ruan­gan di dalam kediamannya yang tidak berpen­gawal, kecuali kamarnya. Karena kamarnya itu telah dikelilingi dengan parit dan terpisah jauh. Di belakang kamarnya, ada lapangan. Bila malam sudah gelap, lubangi dinding kamar itu. Nanti kalian akan memperoleh senjata dan lampu di dalam. Aku akan menunggu kalian di sana. Sesudah itu, masuklah ke ruangan dalam, lalu bunuhlah dia"

"Tetapi, melubangi dinding tembok kediamannya bukanlah pekerjaan yang mudah. Jika kebetulan ada orang lewat, tentu dia akan berteriak memanggil pengawal. Akibatnya akan buruk sekali..." tanya Fairus keberatan.

"Benar ...! Kalau begitu, besok pagi kirim padaku seseorang yang kamu percayai untuk menjadi pekerja. Aku akan menyuruhnya membuat lobang dari dalam, tetapi tidak sampai tembus. Tinggalkan setipis mungkin, supaya kamu dapat menyoblos­ nya dengan mudah malam harinya," jelas­ Dadzan.

"Tepat" sekali." Setelah itu Fairus pun pergi memberitahu kawan-kawan yang lain tentang rencana yang telah disepakati dengan Dadzan. Mereka pun segera menyiapkan segala sesuatunya. Dengan sangat hati-hati mereka bekerja. Mereka pun telah menetapkan kata-kata sandi yang dipergunakan.

Akhirnya, dipilihlah waktu fajar besok untuk memulai aksi mereka. Ketika malam sudah mulai gelap, Fairus dan pasukannya segera pergi ke sasaran. Dinding yang di maksud mereka coblos dengan mudah. Lalu mereka pun bergegas masuk ke dalam gudang, menyalakan lampu dan mengambil senjata. Sesudah itu, mereka menuju kamar Aswad. Sementara Dadzan, telah berdiri di muka pintu. Dia memberi isyarat agar Fairus dan pasukannya segera masuk.

Mendapati Aswad tidur mendengkur, Fairus pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera diayunkannya pedang ke lehernya. "Trashhh!" Aswad melenguh seperti sapi, kemudian menggelapar-gelepar seperti unta disembelih.

Mendengar suara Aswad melenguh, pengawalnya segera datang. "Apa yang terjadi?' tanya mereka dari balik kamar.

"Tidak apa-apa! Kembalilah kalian! Nabiyallah sedang mendapat wahyu!" sahut Dadzan. Mereka pun kembali tanpa curiga.

Begitu terbit fajar, Fairus berlari menuju singgasana Aswad sambil berteriak, "Allahu Akbar, Allahu Akbar, asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Ra­sulullah. Wa asyhadu anna Aswad Al-Ansy Kadsdzaab, (Allah Maha Besar, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, sesungguhnya Aswad Al-Ansy pembohong).

Kalimat terakhir itu sebenarnya kata-kata Sandi yang disepakati dengan kaum muslimin. Mendengar seruan Fairus, kaum Muslimin berlompatan ke istana dari segala arah. Para pengawal terkejut kebingungan. Saling membunuh pun segera terjadi antara kelompok kaum muslimin dengan para pengawal istana. Melihat itu, Fairus cepat-cepat melemparkan kepala Aswad Al-Ansy yang sudah dipotong ke tengah-tengah para pengawal.

Melihat kepala Aswad menggelinding di hadapan mereka, hati mereka kecut, kehil­angan semangat. Sebaliknya, kaum muslimin dengan gemuruh meneriakkan takbir dan menyerang musuh-musuh Allah yang kebin­gungan tanpa ampun. Pertempuran selesai sebelum matahari terbit, dengan kemenangan di pihak kaum muslimin.

Setelah matahari terbit, mereka segera menulis Surat kepada Rasulullah, menyam­patkan kabar gembira bahwa musuh-musuh Allah telah berhasil ditumpas habis. Namun begitu, ketika utusan sampai di Madinah, mereka mendapati beliau telah berpulang ke rahmatullah. Beliau wafat tidak lama sesudah menerima wahyu yang mengabarkan bahwa Aswad Al-Ansy telah terbunuh, persis pada saat kejadian.

Beliau sempat berkata kepada para saha­bat, "Aswad Al-Ansy telah meninggal dunia tadi malam, dibunuh seorang yang penuh berkat dan berasal dari rumah tangga yang diberkati."

"Siapa orang itu, wahai Rasulullah?" "Fairus... Fairus menang ... !"

[Hidayah/Disarikan dari 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Huston, Pustaka Al Kautsar, 2002]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar