











sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3480838
Wong Fei Hung (Faisal Hussein Wong) Adalah Muslim (Ulama), Ahli Pengobatan, Ahli Beladiri & Berasal Dari Keluarga Muslim : Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung? Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China. Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong. Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung. Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong. Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih. Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam. Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734. Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in. Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras. Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya. Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Alah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amin. -------------- http://en.wikipedia.org/wiki/Wong_Fei_Hung http://www.wongfeihung.com/ http://www.abdurrohim.web.id/index.p...rah&Itemid=170 http://majalahummatie.wordpress.com/...eorang-muslim/ sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2360003 | |
![]() |
Oleh Muhamad Sahrul Murajjab
Suatu kali, seorang bijak ditanya oleh salah seorang muridnya. "Tuan Guru, adakah kejujuran yang tidak baik? Sang guru bijak pun menjawab, "Pujian seseorang atas dirinya sendiri." Maksudnya, ketika seseorang bercerita hal-hal baik tentang dirinya sendiri, meskipun cerita tersebut benar adanya, hal itu adalah kejujuran yang tidak baik. Sebab, bisa memunculkan perasaan bangga diri dan kesombongan.
Ketika seseorang mengatakan 'aku', yang biasanya timbul adalah subjektivitas. Bahkan, tidak jarang pula kata tersebut memiliki efek negatif bagi kehidupan sosial. Dikisahkan dalam Alquran bahwa makhluk yang pertama kali mengucapkan kata 'aku' dengan penuh kesombongan dan perasaan tinggi hati adalah iblis.
Tatkala Allah SWT memerintahkan iblis bersujud kepada Adam AS, ia menolaknya dengan congkak sembari berkata, "Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan engkau menciptakannya dari tanah." (QS Al-A`raf [7]: 12).
Kata 'aku' meluncur dari mulut iblis sebagai ungkapan pengagungan dan penyucian diri sendiri di hadapan Allah yang menciptakannya. Meskipun dia mengakui bahwa dirinya hanyalah makhluk yang diciptakan, nyatanya ia membangkang: menyanjung dirinya dan melupakan karunia Penciptanya. Karena sikap iblis ini, sering muncul sebuah ungkapan bahwa tidak ada seorang pun yang memuji dirinya sendiri, kecuali yang menyerupai makhluk terkutuk itu.
Demikianlah bahaya kata 'aku' yang diiringi perasaan bangga diri. Para ulama suluk sering menyebutnya sebagai salah satu penghancur (muhlikat) kehidupan manusia. Allah pun telah melarangnya dengan tegas dalam firman-Nya, "... maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa." (QS Alnajm [53]: 32).
Pada ayat lainnya, ketika menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman, "Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya, Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak teraniaya sedikit pun." (QS Annisa [4]: 49).
Dengan demikian, kata 'aku' dengan muatan keagungan, pujian, dan ketinggian tidaklah pantas jika dinisbatkan kepada diri sendiri. Kata itu hanya layak bagi Allah SWT, sang pencipta semesta alam ini.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/104588/aku-dan-keangkuhan
Jalan untuk menemukan Islam yang dilalui Jacian Fares tergolong terjal. Sebelum masuk Islam, dia terlebih dulu melewati masa peperangan di Irak. Orang-orang yang diperangi saat itu mayoritas umat Muslim. "Sebenarnya saya sama sekali tidak setuju dengan peperangan itu. Tapi sebagai anggota angkatan laut AS, saya tidak punya pilihan," ujar dia seperti dikutip Islamonline.net.
Jacian adalah pria keturunan dari keluarga Fares yang berkedudukan di Hebron. Ayahnya lahir di Lebanon dan ibunya keturunan Spaniard (warga asli Spanyol). Dia adalah generasi pertama dari keluarga Fares yang lahir di Amerika, persisnya di Dearborn, Michigan. Ayahnya bukanlah orang yang taat beragama. Tapi kakek dan neneknya Muslim yang saleh.
"Saya bisa membayangkan betapa sedihnya kakek dan nenek saat mengetahui bahwa keluarga kami tidak beragama," imbuh dia. Setelah tumbuh di Amerika, dia kemudian menghabiskan masa remajanya di Lebanon. Dialah satu-satunya anak dari tiga bersaudara yang bersedia untuk menjalani masa remaja di Lebanon selama enam tahun. Inilah saat pertama bagi Jacian untuk bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat Timur Tengah.
Dari Lebanon, dia kembali ke Amerika dan bergabung dengan angkatan laut AS. Saat Amerika menginvasi Irak di tahun 2003, dia termasuk salah satu personel yang ikut bergabung dalam pasukan koalisi. Hati kecilnya sangat kuat menolak perintah itu, tapi sebagai prajurit, dia harus menjalankan perintah.
Saat itu, dia ditugaskan di Fallujah dan kota-kota lain di Provinsi Al Anbar. Pengalaman ini menjadikannya semakin paham tentang kehidupan masyarakat lokal. Saat Ramadhan tiba, dia pun menyaksikan ketaatan warga setempat terhadap agama yang dipeluknya, yakni Islam. Ini menjadi bekal penting dalam kehidupannya di masa mendatang.
Saat bertugas di Fallujah, dia tertembak dan harus ikhlas kehilangan satu ginjalnya. "Ini kehendak Allah SWT," tutur dia. Jacian pun mengaku yakin bahwa Allah memiliki alasan yang sangat kuat saat menentukan takdir bagi hamba-hamba-Nya.
Mulanya, dia mengaku sangat tertekan dengan kejadian itu. Kondisinya bertambah buruk saat keluarga pelan-pelan meninggalkannya. Kegiatan rutin yang biasa dijalankannya pun tidak bisa lagi dilakukan. Latar belakang kakek, nenek, dan pamannya yang beragama Islam, membuatnya mendapat titik cerah. Hatinya semakin kuat untuk menuju Islam saat seorang wanita asal Kuwait yang ditemuinya pun menyarankan dia untuk masuk Islam.
Sepanjang Agustus 2008 Jacian banyak menghabiskan waktunya untuk mulai membaca Alquran. Hatinya pun tersentuh. "Kuat sekali sentuhannya dibanding saat saya membaca Injil maupun Taurat," ungkap dia. Dari situlah kemudian dia menemukan Islam secara utuh. Akhirnya, dia pun menjalani kewajibannya sebagai pemeluk Islam dan merasa kehidupannya menjadi jauh lebih baik.
Lewat Islam, dia menemukan banyak sahabat dari berbagai negara di Timur Tengah. Sebagian temannya datang dari Palestina, Yordania, Qatar, Mesir, juga beberapa negara lain. Tahun lalu, adalah tahun kedua baginya menjalani puasa Ramadhan. Sayang, dia tidak bisa ikut berpuasa karena gangguan ginjal. Dan tahun itu pula, ulang tahunnya jatuh bertepatan dengan Idul Fitri.
Meski kini tinggal sendiri di Amerika, dia tidak pernah merasa hidup sendirian. Umat Islam di sekitarnya sudah dianggap sebagai keluarga. "Agama telah menjadikan kita bisa hidup bersama seperti ini," imbuh Jacian. Dia pun menganggap Islam sebagai agama yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya.
Dia mengaku sangat menyukai Ramadhan. Hadirnya Bulan Suci ini menjadikannya semakin kuat berkeinginan untuk menjadi Muslim yang baik. Sebagai Muslim, Jacian pun meyakini bahwa dirinya bisa ikut berkontribusi untuk menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/104434/jacian-fares-angkatan-laut-yang-memilih-islam
Olen: Syarqawi Dhofir
Sumber : Harian Republika Kolom Hikmah
Seseorang akan menyerahkan anaknya untuk suatu pekerjaan. Menjadi tradisi para sahabat, orang itu datang kepada Rasulullah saw mengajukan persoalannya. Rasulullah menjawab: "Jangan serahkan anakmu kepada penjual gandum!"
Mengapa Nabi menegaskan hal itu? Saat itu, masyarakat Arab punya tradisi menimbun gandum untuk mengubah harga pasar. "Seandainya penjual gandum itu menghadap kepada Allah sebagai pelacur atau peminum khamr," sabda Rasulullah menurut riwayat Asy-Sya'bie, "Itu masih lebih baik dibanding sebagai penimbun bahan makanan sampai empat puluh malam."
Kegiatan menimbun seperti apa yang sebenarnya dilarang keras itu? Menurut Imam Malik, menimbun yang dilarang (ihtikar] itu adalah menahan barang untuk dijual dengan mengharapkan keuntungan dari perubahan harga pasar. Sedangkan menimbun untuk memenuhi kepentingan sendiri tidak termasuk yang dilarang.
Menurut Imam Syafi'ie, apa yang dimaksud dengan ihtikar adalah menahan barang yang dibeli waktu mahal untuk dijual lebih mahal pada waktu permintaan dan kebutuhan semakin meningkat tajam. Sedangkan menimbun barang yang dibeli pada waktu murah, menimbun untuk kepentingan keluarga dan menimbun barang impor dari negeri lain untuk menjaga stabilitas harga, tidak termasuk kegiatan menimbun yang dilarang.
Walaupun asal mulanya ihtikar terbatas pada makanan pokok, mengingat perkembangan kebutuhan pokok di zaman kita tidak terbatas pada makanan pokok saja, tapi juga meliputi sejumlah barang, maka hukum ihtikar dapat diberlakukan dengan cara "qiyas" (analogi), Karena itu Imam Hanafi menambahkan pada definisinya tentang ihtikar dengan kalimat wanahwahu — yang berarti dan dan sejenisnya.
Banyak ancaman Rasulullah untuk para penimbun, di antaranya: "Tidak menimbun kecuali orang yang durhaka." (Riwayat Ma'marbin Abdullah Al-Adawi). Atau, "Siapa yang menimbun makanan selama empat puluh hari, orang itu telah putus hubungan dengan Allah dan Allah telah putus hubungan dengannya." (Riwayat Ibnu Umar). Juga, "Orang yang mengimpor makanan itu diberkati rezekinya, dan orang yang menimbun dikutuk. (riwayat Umar bin Khathab).
Akhir-akhir ini harga barang-barang naik, termasuk pangan dan papan. Harian ini (26/8) di halaman muka menurunkan pendapat para produsen semen bahwa harga naik karena ulah pedagang. Walaupun diakui ada pengaruh turunnya nilai tukar dolar terhadap rupiah dan naiknya bunga kredit yang disebabkan oleh ulah spekuIan asing, mestinya tetap tidak terjadi kenaikan harga setinggi yang ada di pasaran kali ini. Menurut temuan seorang produsen, kenaikan itu akibat ada taktik pedagang tertentu supaya semen terkesan langka. Taktik semacam itu tak menutup kemungkinan terjadi pula pada barang lain selain semen.
Rupanya penyelesaian masalah bukan saja bagaimana nilai harga rupiah stabil dan nilai tukarnya ada dalam Batas wajar, tapi meliputi pula bagaimana membina mental para pedagang. Pembenahan etika bisnis yang didengungkan akhir-akhir ini tidak terbatas hanya pada "labour skill" tapi harus pula meliputi pula "mental spritual" .
Oleh Alwi Shahab
Sumber : Harian Republika Kolom Hikmah
Membicarakan kejelekan orang lain dan mencelanya disebut menggunjing jika kejelekan itu memang benar, dan disebut fitnah jika tidak benar. Islam menilai kedua-duanyanya sebagai perbuatan tercela.
Kita menyadari bahwa Allah swt tidak menciptakan seorang manusia pun yang bebas dari dosa dan kesalahan. Tak ada manusia yang sempurna. la bisa khilaf dan melakukan kesalahan.
Itulah sebabnya mengapa Allah melarang membicarakan kejelekan orang lain. Kita pun, tentu saja, juga tidak suka bila ada orang yang membicarakan keburukan dan aib kita. Karena itu, alangkah baiknya jika kita juga bisa menghindari dari mempergunjingkan aib orang lain.
Allah memperingatkan, .....dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?"' (AI-Hujarat: 12).
Imam AI-Ghazali mencatat 20 macam kelemahan lidah, yang disertai dengan perincian-perinciannya. Di antaranya dusta, berguncing, memberi kesaksian palsu, membicarakan kelemahan orang lain, dan omong kosong.
Banyak ayat maupun hadis Nabi Muhammad saw yang memperingatkan kita tentang akibat buruk ketergelinciran lidah. Kata Nabi saw, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya ia berbicara yang baik-baik atau diam,"
Namun bukan berarti kita harus mengunci mulut atau bungkam seribu Bahasa, karena Allah memerintahkan kepada setiap manusia untuk beramar ma’ruf nahi munkar, yang antara lain lewat perkataan. Dengan begitu yang dimaksudkan diam dalam hadis Nabi itu adalah kita diminta untuk berbicara soal-soal yang baik dan di ridhoi Allah.
Kita sering mendengar dan membaca di berbagai media
Di antara bahaya lidah itu, yang sering diingatkan oleh Nabi saw, adalah dusta dan tidak menepati janji. Banyak di antara kita yang seenaknya saja memberikan janji-janji, tanpa menyadari bahwa apa yang kita janjikan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Firman Allah, "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf: 18).
Karena itu, orang yang sadar bahwa ucapannya sama dengan perbuatannya, yakni akan diperhitungkan (dihisab) kelak, ia tentu akan berbicara hal-hal yang baik dan bermanfaat. la tak akan mau sesumbar memberikanjanji-janji,demi hanya untuk kepentingan diri, kelompok, dan golongan. "Hai orang-orang beriman, penuhilah segalajanji." (QS.AI Maidah: 1).
Nabi saw memperingatkan kepada umatnya untuk selalu menepati janji. "Janganlah kamu berbantah-bantahan dengan saudaramu dan jangan pula menjanjikan dengan dia satu janji lalu engkau menyalahi janji itu," kata Beliau.
Oleh Drs Hery Noer Aly, MA
Sumber : Harian Republika Kolom Hikmah
Tidak ada paksaan untuk menerima Islam (QS 2: 256-). Paksaan bertentangan dengan risalah sebagai rahmat. Rasulullah SAW pun, dalam menyampaikannya, hanya diberi wewenang untuk mengingatkan, bukan memaksakan kehendak, baik dengan menggunakan kekuasaan (QS 88: 21-22), yang bisa berbentuk kekerasan, maupun berputus asa dalam bentuk bunuh diri (QS 18: 6). Maka upayanya diarahkan kepada membangun kesadaran dengan memberi teladan, kabar gembira, peringatan, bimbingan, dialog, dan cara-cara bijak lainnya.
Watak risalah Islam ini sering dicoreng oleh tuduhan negatif Barat terhadap Islam yang dihubungkan dengan terorisme. Negara-negara OKI (Organisasi Konperensi Islam) melalui KTM-nya (Konperensi Tingkat Meteri) ke-24 telah mengeluarkan deklarasi untuk menghapus citra negatif itu. Ironisnya,justru di negara kita, sebagai penyelenggara KTM ini, muncul gejolak-gejolak yang disebut Emha Ainun Najib sebagai budaya amuk: suatu gejolak yang menunjukkan sikap memaksakan kehendak.
Pemaksaan kehendak merupakan salah satu bentuk sikap menuruti hawa nafsu, yang sesungguhnya bertentangan dengan keikhlasan kepada Allah SWT (QS 45: 23, 25: 43). Hawa nafsu memang diciptakan Allah di dalam diri manusia untuk, dalam batas-batas terkencali, memberikan manfaat kepadanya. Dorongannya sangat kuat. Orang yang tidak mampu mengendalikannya bisa terbalik menjadi "budak nafsu", dan bisa pula "membunuh" nafsunya dengan mengasingkan diri dari kesenangan duniawi.
Islam menghendaki agar hawa nafsu dikendalikan. Berkata dusta, bercakap kotor, mencaci-maki, marah, dan mengajak berkelahi, merupakan bentuk-bentuk paling menonjol dari sikap menuruti hawa nafsu. Semua itu hendaknya dihindari oleh orang yang mengatakan, "Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi Rabbit 'Alamin (Sesungguhnya salat saya, ibadah saya, hidup saya, dan mati saya untuk Tuhan Penguasa Alam).
Semoga kita makin mampu mengendalikan hawa nafsu, baik dari terpancing untuk bertindak reaktif brutal maupun dari memancing lahirnya tindakan tersebut. Allah menjelaskan: Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan mengendalikan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya (QS 79: 40-41). Wallahu A’lam.