Selasa, 18 Mei 2010

Arti Tawakal

Oleh Luthfi Hidayat

Datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad saw ingin menyampaikan suatu urusan. Dia berkata: "Aku tinggalkan ontaku di sana dan aku hanya bertawakal kepada Allah. " Lalu Nabi menyatakan: "ikatlah ontamu dan bertawakal kepada Allah!"

Kabar dari Rasulullah di atas merupakan pendidikan kepada seorang Arab Badui —juga buat kaum Muslimin seluruhnya — yang salah dalam memahami arti tawakal. Dia bertawakal kepada Allah, namun menafikan berbuat sesuai dengan hukum kausalitas. Dengan mem­biarkan onta tidak diikat dan karenanya gampang lepas, dia salah dalam mengartikan tawakal.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, tidak sedikit kaum Muslimin yang juga salah memahami arti tawakal ini. Sering seseorang bertawakal kepada Allah, namun tidak diiringi dengan berusaha sesuai dengan hukum kausalitas (yang diperbolehkan syariat Islam). Misalnya agar berpenghasilan, seseorang tentu harus bekerja. Seorang terkadang hanya berdiam diri atau bermalas-malasan, dengan alasan "saya hanya ber-tawakal kepada Allah."

Memang, tawakal kepada Allah merupakan kewajiban buat kaum Muslimin sebelum melakukan perbuatan (QS 3:159). Tawakal merupakan salah satu segi keimanan yang wajib diya­kini (QS 3:160). Perkara keimanan ini tempatnya di hati. Hanya saja, Islam juga datang dengan syariat yang mengajarkan secara praktis bagaimana seorang Mukmin harus berbuat.

Berusaha atau bekerja adalah suatu kewajiban yang juga dibebankan oleh Islam kepada seorang Mukmin sehingga dalam aktivitasnya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek ini: keimanan yang tempatnya di hati dan syariat yang meng­atur perbuatannya secara praktis.

Karenanya, dalam memahami arti tawakal ini, seorang Mukmin wajib bertawakal hanya kepada Allah sebelum dia berusaha sesuai dengan syariat Islam.

Sesungguhnya bagi seorang Mukmin, tawakal kepada Allah merupakan dorongan yang sangat kuat untuk mencapai keber­hasilan. Dia tidak akan putus asa kalau gaga) karena sebelum­nya segala urusan-Nya benar-benar dia serahkan kepada Allah. Dia yakin, apapun yang terjadi — setelah dia berusaha — itu merupakan keputusan Allah yang terbaik baginya. Tidak ada kata sulit dalam benak orang yang senantiasa bertawakal ke­pada Allah, dan tidak ada pula kata "putus asa" dalam kamus mereka. Inilah yang dulu dipahami oleh para pendahulu kaum Muslimin dalam meraih kemuliaan mereka di mata dunia.

Walhasil, hendaklah kita senantiasa bertawakal kepada Allah dalam segala urusan yang akan kita lakukan (QS 3: 159). Hanya kepada Allah-lah kita meminta pertolongan. Hanya kepada Allah kita menggantungkan segala urusan atau aktivitas. Cukuplah hanya Allah tempat bergantung. Hanya saja, apa mungkin seorang Muslim dengan ikhlas dan tenang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, kalau dia masih ragu akan keperkasaan Allah dalam setiap urusannya? n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar