Selasa, 18 Mei 2010

ibadah Haji

Oleh Prof Dr Sallman Harun

Dalam Alquran terdapat sebuah surat bernama al-Haj , yang artinya ibadah haji. Seluruh sapaan di dalam surat itu ditujukan kepada manusia pada umumnya, dengan ungkapan "Ya ayyuha al-nas ...(Wahai sekalian manusia". Di akhir surat baru terdapat sapaan untuk orang yang beriman, de­ngan ungkapan "Ya ayyuha al-lazina amanu... (Wahai orang yang beriman)".

Sapaan itu dimulai dengan panggilan agar manusia bertak­wa. Kemudian ditegaskan bahwa kiamat adalah peristiwa dah­syat. Ungkapan itu kiranya berarti bahwa mengimani adanya kiamat yang dahsyat itu adalah upaya yang sangat baik untuk memperoleh ketakwaan (ayat 1-4).

Sapaan kedua berisi panggilan agar manusia tidak meragu­kan adanya kehidupan abadi sesudah mati. Keraguan itu dite­pis Alquran dengan cara meminta manusia menyadari jati dirinya, bagaimana evolusi kehidupannya dari benih yang di­ciptakan dari tanah, sampai menjadi janin, lahir, dewasa, kemu­dian ada yang wafat dan ada yang dikaruniai usia lanjut, lalu ju­ga meninggal. Tak ubahnya seperti tanah mati yang hidup karena hujan, kemudian tumbuhlah tanaman, lalu tanaman itu subur, dan akhimya juga mati. Fakta itu tetap saja ditolak oleh sebagian orang sebagai bukti adanya Allah, atau paling kurang meragukannya. Tetapi yang beriman pasti akan beroleh keberuntungan di akhirat (ayat 5-25).

Di tengah surat terdapat perintah yang mirip sapaan dengan ungkapan, "Serulah manusia mengerjakan haji...!" ibadah itu dibarengi dengan ritual pengurbanan hewan, yang ditegaskan bukanlah untuk Allah, tapi untuk fakir miskin. Nabi Muhammad diminta agar tidak kecil hati bila ibadah itu diingkari, karena para nabi terdahulu pun tidak sepi dari pengingkaran seperti itu (ayat 26-48).

Kemudian Allah meminta Nabi Muhammad saw agar mem­proklamasikan kenabiannya kepada manusia. Tetapi beliau tidak boleh berangan-angan bahwa manusia seluruhnya akan mengakui kerasulannya, karena mereka yang hatinya rusak atau keras pastilah tidak akan mengakui wahyu dan tanda-­tanda kebesaran-Nya berupa alam semesta ini (ayat 49-72).

Lalu Allah menyeru manusia agar memilih yang terbaik dari dua pilihan, yaitu kafir atau iman kepada Allah. Orang yang mempertuhankan selain Allah pastilah nanti akan kecewa (ayat 73-76).

Terakhir barulah Allah memanggil orang-orang yang beriman. Mereka diminta agar intensif rukuk sujud, yaitu salat, mengabdi kepada-Nya, dan berbuat kebajikan bagi manusia. Tidak hanya itu, mereka juga diminta agar tegar dalam berjuang demi Allah.

Mengingat seluruh seruan ditujukan kepada manusia, dan pada terakhir baru ditujukan kepada mereka yang beriman, sedangkan seruan itu terdapat di dalam surat yang bemama al-­Hajj (di tengah surat itu memang ditemukan seruan agar manusia berhaji), dipahami bahwa panggilan yang ditujukan kepada mereka yang beriman itu seharusnya dibaca ditujukan kepada para haji.

Jadi, para hajilah yang dipandang Allah terpercaya mampu intensif salat, mengabdi kepada Allah dan kepada manusia, dan tegar berjuang bagi kemakmuran manusia dan alam semesta. Dan dengan salat, zakat, dan persatuan, merekalah yang akan menjadi saksi-saksi kebenaran Islam. n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar