Selasa, 18 Mei 2010

Pemberdayaan Takwa

Oleh A Ilyas Ismail MA


Ibadah puasa, menurut Alquran surah Al-Baqarah 183, dimaksudkan sebagai wahana melatih diri menjadi orang takwa. Ini berarti, orang yang berpuasa pada hakikatnya adalah orang yang sedang mengupayakan pe­ningkatan kualitas diri. Upaya ini ditempuh melalui se­rangkaian pemberdayaan, terutama pemberdayaan iman dan takwa.

Takwa itu sendiri, menurut pakar tafsir al-Ashfahani, berarti menjaga diri dari dosa dan kejahatan dengan me­lakukan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Selain bermakna menjaga diri dan menepati kewajiban-ke­wajiban, takwa menurut Muhammad Ali, juga mengan­dung makna hati-hati dan waspada. Di sini, orang yang takwa (muttaq) berarti orang yang sangat hati-hati dan penuh perhitungan dalam setiap tindakannya.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi saw tentang takwa. Lalu katanya, 'Pernakah Engkau bertemu jalan yang banyak duri? Bagaimana tindakanmu pada waktu itu? Abu Hurai­rah menjawab, "Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi, atau aku mundur." Rasulullah pun berkata, "Itulah tak­wa."

Alquran tidak secara eksplisit menjelaskan arti takwa. Tapi, Alquran banyak menyebutkan ciri-ciri dari orang yang takwa. Dalam surah Ali Imrah 133-136, ciri-ciri orang takwa itu ada lima. Pertama, menafkahkan harta dalam segala keadaan (senang maupun surah). Kedua, mengendalikan amarah. Ketiga, memaafkan kesalahan orang lain. Keempat, selalu berbuat baik. Kelima, setiap berbuat kesalahan selalu ingat kepada Tuhan, lalu memohon ampun.

Di lain tempat, Alquran menyebut ciri-ciri takwa itu se­cara lebih lengkap, yaitu dalam Alquran surah al-Baqarah 177. Dalam ayat ini, nilai-nilai takwa itu, menurut Rasyid Ridha, mencakup empat prinsip. Pertama, prinsip keimanan yang meliputi iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi. Kedua, prinsip amal saleh yang diwujudkan dalam bentuk memberikan harta kepada sanak keluarga, anak yatim, orang miskin, ibn sabil, orang yang minta-minta, dan pemberian harta untuk pembebasan budak. Ketiga, prinsip ibadah, yang ditunjukkan antara lain dengan mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Keempat prinsip akhlak yang diwujud­kan antara lain dengan selalu tepat janji dan bersikap sabar dalam keadaan yang serba sulit.

Dari sini dapat dipahami bahwa nilai-nilai takwa seper­ti dikemukakan di atas, sesungguhnya mencakup dua di­mensi, yaitu dimensi horizontal yang memperlihatkan semangat sosial dan kemanusiaan. lbadah puasa yang kita lakukan sesungguhnya dimaksudkan untuk memberda­yakan nilai-nilai takwa di atas baik dalam dimensinya yang bersifat vertikal maupun horizontal.

Secara vertikal, orang yang berpuasa selalu meng­ingat Allah dan menginsafi secara sungguh-sungguh ke­hadiran Tuhan dalam dirinya. Itu sebabnya, orang yang berpuasa tetap menahan diri, tak makan dan minum, meski peluang untuk itu terbuka lebar dan tak seorang pun mengetahuinya. Sikap ini, tentu lahir dari kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi dirinya. Kesadaran inilah sebenamya yang dinamai takwa.

Sementara, secara horizontal, orang yang berpuasa di­latih untuk meningkatkan kepekaan sosialnya, dengan selalu menahan amarah, member maaf, dan memberi­kan perhatian dan kepedulian terhadap orang-orang mis­kin dan kaum lemah lainnya. Perhatian ini dapat dilihat, antara lain dari perintah mengeluarkan zakat fitrah mau­pun anjuran agar orang yang berpuasa banyak berbuat baik dan beramal shaleh boat sesama. Semua ini, tentu diharapkan agar puasa yang kita lakukan benar-benar dapat meningkatkan dan memberdayakan iman dan tak­wa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar