Selasa, 18 Mei 2010

Keutamaan Kerja

Oleh Dra Hj Tutty Alawiyah AS

Salah satu naluri yang diberikan Allah kepada manusia adalah kecenderungannya memiliki harta benda. Naluri ini tidak selalu jelek, tapi justru positif sebagai pendorong manusia punya sema­ngat dan etos kerja. Hanya saja yang harus tampil bukan­lah alasan untuk menguasai sebanyak mungkin harta benda, melainkan alasan keagamaan yaitu untuk kesem­purnaan hidupnya dalam beribadah dan berbuat balk pada sesama.

Jika memiliki harta benda itu semata-mata karena alasan kebendaan, sangat dikhawatirkan manusia hanya akan menjadi pengejar harta. lalu bersifat rakus dan tamak, yang bisa berakhir menjadi budak harta. Kata Rasulullah saw, "Andaikata anak Adam telah memiliki satu lembah emas. tentu ia ingin mempunyai dua lembah dan tidak akan menutup mulutnya (kerakusan­nya) kecuali tanah (mati). Dan Allah akan menerima tobat pada siapa yang dikehendaki." (HR Bukhari-Muslim).

Alasan yang benar dalam mencari harta, sangat dipuji oleh Nabi saw dan dinilai sebagai ibadah. Sa'ad Al-Anshan bercerita bahwa suatu hari seorang sahabat Nabi saw terlihat tangannya yang hitam dan melepuh. Ketika Nabi menanyakan tentang hal itu, sahabat itu menga­takan bahwa tangannya melepuh karena ia harus bekerja keras mencangkul tanah demi mencari nafkah untuk keluarganya. Seketika itu Nabi saw meraih tangan saha­batnya tersebut, lalu menciumnya.

Kisah di atas memperlihatkan betapa Rasulullah saw sangat menghargai orang yang bekerja keras untuk men­cukupi kebutuhan hidup keluarganya. Tentang hal ini, secara khusus Rasulullah memberikan penilaian melalui sabdanya, "Segala sesuatu yang dinafkahkan seseorang untuk istrinya, anaknya, dan pelayannya, maka hal itu menjadi sedekah baginya." (HR. Thabrani).

Hubungan bekerja dengan sedekah dalam kehidupan kaum muslimin bertemu dalam konsep dan pengertian tentang rezeki yang pada hakikatnya bersumber dari Allah swt. "Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjuru dan carilah sebagian rezeki-Nya.-(QS AI-Mulk: 15).

Dalam upaya mencari rezeki memang berkemung­kinan besar timbulnya perbedaan dalam perolehan. Untuk menjaga agar jangan sempat timbul kesenjangan sosial, maka mereka yang telah diberikan nikmat berupa kemurahan rezeki diharuskan untuk mengeluarkan sedekah untuk kepentingan sosial. Ini, karena semua kekayaan yang berhasil diperoleh seseorang itu sebe­narnya terjadi karena proses sosial juga. Karena itu, bekerja dan menjadi dermawan adalah dua keutamaan yang dianjurkan Islam untuk membingkai naluri kecintaan manusia pada harta benda. Sabda Rasulullah, "Sesungguhnya orang dermawan itu dekat kepada Allah, dekat pula pada manusia dan dekat pada surga, jauh dari neraka." (HR. Tirmidzi).

Kaidah-kaidah di atas merupakan energi iman yang seharusnya mampu mendorong kita kaum muslimin memiliki motivasi yang membara untuk meraih keuta­maan di sisi Allah melalui kerja keras dan amal keder­mawanan. Dua hal inilah agaknya yang masih perlu kita budayakan untuk penyelamatan kondisi sosial masyarakat kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar