Selasa, 18 Mei 2010

Mengatasi Stres

Oleh Fauzan All-Anshad


Mengatasi stres bukanlah pekerjaan mudah. Stres sering muncul lantaran ambisi meraih sesuatu di luar kemampuan dirinya, sehingga menimbulkan tekanan yang kuat pada batin kita. Dengan kata lain, stres muncul karena kegagalan dalam menca­pai suatu cita-cita, padahal telah mengerahkan segenap usaha untuk meraihnya.

Bagi seorang muslim, tidaklah diperkenankan memas­tikan suatu usaha yang baru akan dilakukan besok, kare­na situasinya masih penuh dengan misteri, tidak menen­tu. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan agar kita mendahulukan kekuasaan-Nya seraya mengucapkan: Insya Allah (jika Allah menghendaki).

Firman Allah SWT: Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan­nya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat menge­tahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Lukman: 34).

Maksud dari ayat di atas bahwa setiap manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahak­annya besok atau yang akan diperolehnya, namun demi­kian mereka diwajibkan berusaha.

Ayat itu sesungguhnya menunjukkan bahwa dengan menjauhi berbagai spekulasi dalam segala bidang, baik itu menyangkut ekonomi, politik, maupun berbagai usaha lainnya, akan turut menjaga batin kita dari rasa stres. Karena pada umumnya, berbuat spekulasi hampir dipas­tikan menjadi penyebab timbulnya kerugian yang melahir­kan stress.

Bahkan seringkali spekulasi itu disertai rumor yang sulit dicerna akal sehat. Sehingga di tengah-tengah tin­dakan spekulasi tadi suara hati menjadi lemah, semen­tara emosi (hawa nafsu) justru menguat. Akhimya para spekulan mengalami tekanan jiwa yang hebat. Pada gilir­annya, untuk mengurangi tekanan tadi, jalan spiritual mu­lai ditempuh. Namun sayangnya, kebanyakan mereka tidak melalui jalan yang lurus, melainkan jalan yang ber­liku-liku, seperti ke paranormal atau dukun modern.

Islam dengan ajarannya yang harmonis antara kewa­jiban berusaha dan doa seharusnya menjadikan umatnya selalu memperoleh keseimbangan fisik dan mental. Kata Nabi SAW: Orang Muslim itu dalam keadaan bagaimana­pun selalu baik. Bila musibah menimpanya, mereka sa­bar (tetap patuh kepada Rabb-nya), dan bila mendapat rejeki, mereka bersyukur. (HR Muslim).

Berusaha dan berdoa itulah kunci ketenangan batin. Sebab betapapun kita punya ambisi, betapapun usaha keras kita, di sana ada faktor X yang bisa saja mengga­galkan usaha kita itu. Kegagalan itu bisa saja karena Allah ingin menguji kita atau Allah kurang berkenan de­ngan usaha kita itu. Di sinilah kemudian fungsi doa itu sangat punya peranan. Selain doa, juga tawakal, ber­serah diri kepada Sang Maha Kuasa yang disertai dengan zikir dan tobat.

Firman Allah: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ra'du: 28).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar